antara Partai Politik dan Klub Sepakbola

well, tadi siang gw iseng scroll timeline. dan entah dari akun berita mana, gw nemu judul “kaos Jokowi laris…” yg ada di pikiran gw: bah, macem Real Madrid aje yg beli pemain cuma buat bikin jerseynya laku dijual. tapi setelah dipikir2, rasanya gak cuma itu kesamaan mereka. cekidot

Ketergantungan Pada Sosok Figur
bisa dibilang kalo partai itu besar karena figur. contohnya ya kayak tadi, Jokowi, yg bikin popularitas partainya naik. di “klub” (re: partai) lain ada pak SBY beserta keluarganya, ada juga sosok Ahok di Gerindra dll. mungkin ini dapat disamakan dengan Messi di Barca, apalagi Cristiano Ronaldo di Madrid. begitu doi pindah ke madrid, banyak fans MU yg “hijrah” karena sosok satu ini. penampilannya di lapangan pun menjadi buktinya. baik di lapangan politik, maupun lapangan hijau. membayangkan PDIP tanpa Jokowi mungkin sama saja seperti Real Madrid tanpa Cristiano

Besarnya Pengaruh Sang Kapten
ini juga mirip2 pernyataan di atas. bayangkan saja Carles Puyol (kapten), yg memberi rasa aman di lini belakang Barca, denga Xavi (wakil) yg menjadi titik awal serangan Barca. mungkin mirip dengan Wiranto, orang dengan jiwa kepemimpinan, dan Hary Tanoe, penyokong dana Hanura. atau mungkin partai itu terkenal karena pemimpinnya. misalnya SBY, keluarga Soekarno (re: bude Megawati). mereka bisa saja seperti Messi, Cristiano dan Ibrahimovic di level timnas. ketika permainan atau citra mereka buruk, rusaklah permainan tim. misalnya saja, kayak Hatta Rajasa yg anaknye abis nabrak mati orang cuma dihukum ringan, trus ada ARB (kayaknya ga usah dijelasin deh rusaknya dimana kalo yg ini)

adanya transfer pemain
di parpol juga ada looh ternyata kader yg pindah2 partai. emang sih pindahnye ga kayak Ibrahimovic atau Anelka, semua “klub” dicobain

rivalitas
biasanya ini terjadi di antara peringkat 1 dan 2 klasmen. kalo di politik itu ada koalisi dan oposisi. oposisi yg sering mind games dengan partai yg “di puncak”, juga terkadang koalisi yg kadang nyerang “si pemuncak klasmen”. yah anggap aja koalisi itu kayak tim peringkat 3 dst

event besar/gelaran akbar
kalo di bola itu ada Piala Dunia yg 4 tahun sekali, di politik itu ada Pemilu, iya! pemilu *pemilihan umum kini menyapa kita… laksanakan dengan gembira~*. sebelum ikut PilDun, peserta wajib ikut kualifikasi, kecuali tuan rumah. di politik pun demikian, parpol peserta pemilu juga wajib kualifikasi ke KPU. kalo lulus ya ikut, kalo engga… biasanya mereka protes. kalo sebelum pildun, pemain biasanya pindah ke klub yg bisa jamin posisi reguler mereka, biar bagusnye keliatan. sama kayak pemilu, para kader pindah ke partai yg bisa jamin nama mereka di kertas suara. sukur2 kalo di “klub” besar

warna atau julukan
biasanya sebuah parpol suka disebut berdasarkan warnanya. misal: segitiga biru-demokrat, merah/banteng merah/moncong putih-PDIP, kuning/beringin-golkar, hitam-PKS, hijau-PPP, ungu-PDS. mirip2 kan kayak: si merah-liverpool, bayern munich, setan merah-MU, AC Milan, Yahudi super (superjooden)-Ajax, Biru-Chelsea, Biru Langit-Lazio, Man. City, meriam-Arsenal dll. lebih sial lagi kalo julukannya jelek kayak: Keledai Terbang-Chievo. pensiunan-chelsea, nyonya tua-juve. di partai mungkin ada: jargon Partai Sapi, Partai Lumpur, Partai Preman dll *tanpa nyebut merk yak. dan jujur, dulu gw fans PDIP karena warnanya merah, kayak MU. entah kenapa waktu itu gw seneng pas bu Mega jadi presiden. iya, cuma karena warna

mungkin itu sekian dari gw. don’t take it too seriously. kalo ada yg kesindir, mohon untuk perbaiki diri sendiri dulu aje

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: