Form is Temporary, Class is Permanent

pepatah ini mungkin tidak asing di telinga para penggemar Liga Inggris. lalu kenapa saya mau membahas ini? saya ingin sedikit bercerita saja soal pengaruh kehidupan saat saya SMA, termasuk UN, yg mana (seharusnya) sudah selesai di kalangan SMA

dari SMA, bahkan SMP, saya tergolong anak yg cukup aktif, bukan anak “tenggo”, TENG (bunyi bel pulang) langsung GO. yah maklum, namanya juga sekolah di Jakarta, berangkat dari rumah jam 5.30, sampe sekolah jam 6.15 kurang, apalagi kalo bukan karena macet. waktu kelas 7 (satu SMP) malah liburnya 13/1 (sekolah senin sampe sabtu, 2 minggu sekali ekskul). untung masuknya siang, jadi lebih santai karena bangun siang setiap hari). mulai kelas 8 malah saya lebih gila lagi, berangkat 5.30, pulang jam 12an, malemnya latian silat, berangkat jam 6.30 sore, pulang jam 10an. tapi ga apa, ini emang saya mau, dan saya menikmati. latian malemnya 2x seminggu, dan minggu siangnya latian juga. kelas 9 semester akhir saya sangat santai, karena ekskul saya kurangi, sepulang sekolah saya ikut bimbel (meski sebelum bimbel ngetem dulu di warnet). dan UN SMP pun saya lalui dengan mudahnya. waktu itu nilainya kalo ga salah begini:
Bahasa Indonesia: 85
Matematika: 95
Bahasa Inggris: 90
IPA: 85
nyontek? buat apa? emang mudah kok, karena emang sering digembleng pas sekolah

saat SMA pun kehidupan saya tidak jauh berbeda, bahkan mungkin jika ingin diperjelas, bisa jauh lebih panjang dari kisah saya di SMP. di SMA tidak hanya ekskul2nya yg menarik, tetapi kegiatan2 organisasinya juga. overtime itu sangat biasa. berangkat dari rumah jam 5.30, bergelut sikut2an dengan macet Jakarta (karena saya mulai membawa kendaraan sendiri), nyari jalan tikus, sampai jam 6.20 (jaraknya memang agak lebih jauh dari SMP). bel pulang sekitar jam 15.30. pulang? tentu saja tidak, pasti ada saja kegiatannya. baik itu rohis (di SMA saya kerohanian itu wajib, ini patut dicontoh meski SMA saya hanya berstatus SMA Negeri), Silat, Ekskul IT, maupun kepanitiaan acara2 (yg setiap bidang pasti ada aja). mungkin sampe rumah sekitar jam 8an, ya, itu masih jam sibuknya Jakarta, semua orang pake jalan buat pulang ke rumahnya, wajar banget kalo macet. weekend? apa itu? itu cuma masuk jam 8an, ekskul/rapat, pulang pas siang. minggunya? pagi agak siang rapat/syuro, lanjut latian silat sampe jam 7an. libur semester/musim UN? pasti ada aja rapat2nya. bahkan masuk malem dan pagi2 buta pun pernah

itu dari segi mental baja nan tahan banting, karena kutipan di bawah ini

Murid kan juga harus dilihat sisi disiplinnya, bukan cuma dari nilai UN. Memangnya ada jaminan kalau nilai UN bagus, karakter juga bagus? Bisa disiplin kerja? Bisa tahan banting? Bisa teguh menghadapi kesulitan? Tidak juga! – Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok, Wakil Gubernur Jakarta

dari segi kejujuran? semua pelajar pasti pernah nyontek, tapi UN SMP dan SMA sih saya ga butuh contekan maupun kunci jawaban, toh di sekolah udah biasa ulangan jujur, kalo ga tau juga tinggal ngasal. kemungkinan 1/5 kok… ini dibuktikan dengan UN biologi saya yg dapet 75, padahal cuma yakin 17 soal, sisanya ngasal… pelajaran lain? Bahasa Inggris sama Matematika di 90an kok, ya karena emang biasa digembleng sama soal2 yg kualitasnya di atas standar nasional. inilah kelebihan dari sekolah2 di Jakarta, kekurangannya hanyalah kurang percaya diri saat menghadapi event yg terlihat besar, seperti Ujian Nasional. bahkan dari sudut pandang saya pribadi, UN hanya ujian mudah (jika dibanding dengan TO yg diberikan sebelumnya, baik dari sekolah, maupun tempat bimbel) yg dilebih2kan oleh media, atau siapalah yg melebih2kannya

kembali ke judul blog saya. jika diibaratkan dengan persepakbolaan liga Inggris, siswa/i Jakarta itu seperti pemain2 liga Inggris: jadwal padat yg terkadang memaksa mereka bermain 3x sepekan, lawan2 sulit yg hampir sama beratnya, tekanan media. ga beda kan sama siswa/i Jakarta: terbiasa menghadapi jadwal berat yg pergi pagi pulang malem setiap hari tanpa kenal weekend, ulangan2 yg sulitnya naudzubillah, sorotan media (media emang seringnya ngeliput SMA di Jakarta kan? jarang2 ke luar Jakarta)

lalu UN itu “cuma” Piala FA, finalnya. hanya saja kita menghadapi lawan yg tergolong mudah di final, kita sudah menghabisi semua lawan berat di jalan menuju final ini. sedangkan hasil dari “Liga” yg berlangsung selama 3 tahun yg dilalui dengan jersey putih abu itu: saya siap secara fisik, pikiran maupun mental. saya baru merasakannya saat saya sedang Job Training ini: kerja 13 jam sehari, masuk shift malam, jumping shift, libur 6/1, bahkan 13/1 pun tidak masalah

terima kasih SMA Negeri 14 Jakarta, terima kasih juga SMP Negeri 49 Jakarta, juga Perguruan Silat Nasional Perisai Putih. tanpa penggemblengan itu, saya tidak mungkin jadi kuat seperti ini

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: