Gudeg Bu Tjitro 1925

Guys, gw lagi di Jogja loooh #pamer *terus kenapa -___- yah apa salahnya lah having fun, going mad sebelum masuk minggu UAS. Eh eh engga kok, gw makan2 sepuasnya belajar cara mengelola restoran yg mampu bertahan selama ini (sejak 1925, wah kalah tua tuh PERSIJA)Sebelum itu, mari kita sedikit ngebahas sejarah gudeg. Gudeg dulunya berasal dari “kalangan bawah”, bisa diliat dari bahan2nya: nangka. Singkat cerita dia berhasil naik kasta, masuk ke keraton, ditambahkanlah telur, ayam, dll

Lanjut ke Gudegnya bu Tjitro. Jadi begini, mereka mampu bertahan karena memang menjaga kualitas mutu hidangannya, mulai dari bahan2, cara memasak, pelayanan, hingga nilai gizi. Iya, gudegnya masih dimasak pake anglo, pake arang, jadi aromanya lebih khas. Yah emang dasarnya masakan asli Jogja biasanya pake anglo ini. Bahan2 ya mereka juga punya standarnya, nangkanya, santan, kacang tolo, dll

Soal nilai gizi, mungkin kalo kita liat gudeg itu nilai gizinya udah banyak banget yg hilang karena proses pemasakan. Tapi tenang, rupanya gudeg disini punya sertifikat gizi dari UGM! Iya Univ. Gunadharma Margonda Gadjah Mada, Jogja

Dan tentu saja ini tak lepas dari manajemennya yg dikelola secara kekeluargaan, hingga berhasil diwariskan hingga generasi sekarang: generasi IV (ke-empat). Lalu juga gencar bekerja sama dengan mahasiswa daerah setempat, misal dalam segi promosi dan evaluasi, jadi mahasiswa dapet bahan skripsi, dia dapet evaluasi deh, mutualisme!

Inovasi juga ga lupa dilakuin. Pertama kali gw masuk sini yg gw cari itu WC (iya, gw tadi kebelet). Dan WCnya itu bukan kayak bangunan jaman 1925. Tapi bukan WC yg mau gw bahas, contoh inovasi disini itu inovasi produk: gudeg kaleng, yg bisa awet hingga 1 tahun, dibuat dengan kerjasama dengan LIPI Gn. Kidul. Dari segi ruangannya juga sih, berhubung Jogja lumayan panas (meski Jakarta lebih panas -__-) ada juga ruangan ber-AC, tidak lupa ditaruh pewangi ruangan agar pelanggan tetap nyaman. Yah disana bisa duduk di kursi bermeja, bisa juga lesehan

Intinya, mereka ga mau terima uang dari hasil curang, misalnya menu yg ga sesuai standar. Mereka mengutamakan kepuasan pelanggan. Yah emang inilah tujuan utama restoran: kepuasan pelanggan, bukan keuntungan pribadi yg diutamakan, tetapi kepuasan pelanggan

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: