AutoBiografi

Pada tanggal 24 Juli 1993 sekitar jam delapan pagi, lahirlah seorang bayi bernama Julian Pratama. Ya itulah saya. Semasa kecil saya dan keluarga saya, ayah dan ibu, tinggal di jalan Talang, dekat jalan Proklamasi tempat Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1996, saat saya masih tiga tahun, saya sudah mulai masuk taman kanak-kanak Ash-Shalihin di sekitar daerah Manggarai. Memang tidak terlalu jauh dari rumah saya, tetapi pada tahun 1997, saya beserta keluarga pindah ke daerah Cibubur karena situasi di tempat saya tinggal rawan kerusuhan. Karena lokasi TK saya jauh dengan rumah, orangtua saya memindahkan saya ke TK Al-Azhar Cibubur pada tahun kedua saya TK. Saya berharap naik ke TK B, tetapi karena peraturan umur yang ada di Al-Azhar maka saya harus mengulang TK A.
Setelah umur saya memenuhi persyaratan masuk ke SD, saya pun masuk ke SD Al-Azhar Cibubur yang terletak di samping TK Al-Azhar Cibubur. SD saya sangat sepi karena hanya ada dua kelas, satu kelas satu dan satu kelas dua. Sehingga saya memiliki teman SD yang sama selama 6 tahun dan juga kakak kelas saya yang angkatan pertama memiliki adik kelas ‘abadi’ selama lima tahun di SD. Semenjak SD Al-Azhar Cibubur memiliki dua angkatan gedungnya pindah ke lain tempat, sehingga tidak lagi di sebelah TK Al-Azhar Cibubur.
Setelah saya naik ke kelas dua barulah saya merasakan bagaimana rasanya memiliki adik kelas. Setelah saya naik kelas SD Al-Azhar baru mulai membuka kelas dengan dua kelas per tingkatannya, dan saat saya kelas empat, mereka membuka dengan 3 kelas.
Saat saya hampir lulus dari SD, SMP Al-Azhar masih belum jadi sehingga saya harus mencari SMP yang tepat. Lalu saya memilih SMP Negeri 49 Jakarta. Sebelum saya menghadapi General Test, saya sempat ditawari beasiswa di SMP Pribadi Depok selama satu tahun. Tetapi setelah berdiskusi dengan orangtua saya menolaknya. Setelah itu, entah kenapa saya mengerjakan General Test dengan lancar sehingga saya berhasil menembus peringkat dua di 49 dan tertinggi di SD saya
Saat di kelas tujuh, saya masuk siang. Dan inilah masa kehancuran saya karena masuk siang membuat saya menjadi sangat malas. Nilai-nilai saya banyak yang turun, bahkan ada yang terjun bebas. Saya yang ahli di matematika sewaktu SD menjadi seperti seseorang yang buta angka
Tetapi, saat kelas delapan, nilai saya mulai beranjak naik. Bahkan saya tidak hanya bagus di akademis tetapi juga di non-akademis. Saya juga mulai mendalami pencak silat di kelas delapan. Bahkan kehidupan saya hanyalah sekolah, pulang, silat, lalu tidur. Saat kelas tiga SMP saya pun masih seperti kelas dua, yaitu sekolah, pulang, silat, tidur. Lalu saya mulai serius belajar di kelas tiga dengan menambah jam belajar dengan mengikuti bimbingan belajar. Dan itu membuahkan hasil, saya masuk ke SMA yang saya pilih, SMA Negeri 14 Jakarta. Saya memilihnya karena teman-teman silat saya, yang juga anak SMA N 14, menyarankan saya masuk ke 14
Saat di SMA N 14 saya pun tetap aktif di pencak silat. Ini karena saya memiliki tanggung jawab sebagai orang yang lebih pengalaman. Saya harus membantu teman-teman silat saya disini. Dan di bidang akademis saya juga tetap berjuang untuk mendapatkan sebuah kursi di kelas IPA, dan bersaing dengan teman-teman saya di X-F
Dan akhirnya saya masuk ke kelas XI IPA 3. Semoga saja disini saya bisa mendapatkan cita-cita saya

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: